Firman Khoirul Azam

Recent Posts

Doa ibu bapa kepada anak-anaknya tidak ada hijab disisi Allah SWT kerana reda Allah SWT kepada anak-anak adalah bergantung kepada reda kedua ibu bapanya . Oleh itu anak-anak tidak boleh sama sekali derhaka kepada kedua ibu bapanya. Dari Abu Hurairah r.a berkata, bahawasanya Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud : "Ada tiga doa yang diterima oleh Allah secara langsung yaitu doa orang yang dianiaya, doa seorang musafir dan doa orang tua terhadap anaknya." (Hadis Riwayat Turmudzi, Ahmad dan Abu Daud)

~ KEUTAMAAN & PAHALA BAGI ISTRI SHOLEHAH


1. Satu orang wanita yang solehah lebih baik daripada 70 orang wali atau laki-laki yang sholeh.
2. Satu orang wanita yang jahat akhlaqnya, lebih buruk daripada 1000 orang laki-laki yang juga jahat akhlaqnya.
3. Dua raka’at sholatnya wanita yang sedang hamil, lebih baik daripada 80 raka’at sholatnya wanita yang tidak hamil.
4. Apabila seorang suami pulang kerumah dalam keadaan gelisah dan tidak tentram, kemudian sang istri menghiburnya, maka ia akan mendapatkan setengah dari pahala jihad.
5. Wanita yang hamil sampai ia melahirkan anak, maka Allah Swt. akan memberikan pahala kepadanya bagaikan pahala berpuasa di siang hari dan sholat sepanjang malam.
6. Seorang wanita yang meninggal dunia pada masa 40 hari setelah ia melahirkan anak, maka ia akan mendapatkan pahala syahid.
7. Jika seorang anak menangis pada malam hari dan ibunya tidak memarahinya, dan bahkan membujuknya, maka ibu itu akan mendapat pahala ibadah.
8. Seorang wanita yang melahirkan akan mendapatkan pahala 70 tahun sholat sunnat dan puasa, dan setiap kesakitan yang di alaminya ketika melahirkan akan mendapat pahala haji yang mabrur.
9. Seorang wanita yang tidak dapat tidur pada malam hari karena mengurus anaknya yang sakit atau demam, maka Allah Swt. akan memberikan pahala kepadanya seperti pahala memerdekakan 20 orang hamba sahaya.
10. Wanita yang tidak dapat tidur pada waktu malam karena menyusui anaknya, Allah Swt. akan mengampuni dosa-dosanya dan di beri pahala 12 tahun ibadah.
Itulah beberapa pahala dan keutamaan menjadi wanita yang solehah.
11. Wahai wanita, jika suami minum air yang disediakan istrinya maka hal itu lebih baik dari puasa 1 tahun.
12. Jika istri menyediakan makan dan suami memakannya, maka hal tersebut lebih baik dari mengerjakan haji/umrah.
13. Junub istri karena melayani suami lebih baik dari qurban 1000 kambing.
14.Tidak akan putus pahala istri yang siang malam menggembirakan suami.
15. Wanita yang menjaga kehormatannya dan taat pada suami maka dapat masuk pintu syurga dari arah yang disukainya.
16. Wanita yang dapat memelihara anak dengan baik dapat menjadikannya benteng dari neraka.
17.Jika wanita memandang yang baik dan harmonis kepada suami hal tersebut sama dengan dzikir.
18.Hamil istri adalah syahid dan khidmat dan suaminya adalah jihad.

Puisi Udah Putusin Aja


cinta itu memikirkan yang dicintai
bukan hanya kemarin dan kini, tapi nanti
mari kita berbicara tentang masa depan, agar hari esok yg dijelang bukan suatu kesengsaraan
ada hal yg jelas harus dipersiapkan mana yg boleh dilakukan dan mana yg harus dihindarkan
bila engkau lelaki, engkau harus tau arah saat melangkah
bila engkau perempuan, seharusnya tau bagaimana bertingkah
kita bicara masa depan karena ia tidak semudah yang diperkirakan pemuda-pemuda yang lalai
juga tidak sesulit yang diceritakan perempuan-perempuan yang bercerai
setiap muslimah tentu saja menginginkan lelaki yang bertanggungjawab,
yang menghargai kelebihan kebaikannya, dan yang memaafkan kealpa-an kekurangannya
muslimah mana yang tidak ingin lelaki berbudi pekerti, baik hati, tinggi iman, dan lurus amal
muslimah selalu menanti lelaki elok akhlak padan rasa, yang memiliki kelembutan dengan anaknya, dengan istrinya dia mesra.
muslimah mana yang tidak mendambakan lelaki yang bisa mengawalnya jauh dari neraka dan membimbingnya menuju surga Allah
lelaki mana yang tidak suka dengan wanita yang cerdik cendekia lagi berparas menawan, yang lisannya seanggun geraknya..
lelaki yang baik pasti menyukai wanita lemah lembut lagi santun, pintar membahagiakan suami dengan masakan dan perhatian..
tidak tamak harta dan selalu menjaga kehormatan..
lelaki mana yang tidak memimpikan wanita yang mendukungnya dalam kebaikan dan mengeluarkan kebaikannya, dirindukan bila ditinggal dan menyenangkan bila berjumpa
sialnya kita hidup di zaman kapitalisme yang mengajarkan lelaki dan wanita masa kini utk memperhatikan fisik bukan isi,perhatikan badan bukan iman..
kapitalisme sukses menjadikan kebahagiaan materialistis sebagai tujuan tertinggi,
maka hedonisme anak kandung kapitalisme, sukses menjadikan lelaki hanya peduli nikmat sampai batas kulit..
wajar bila kita melihat dimana-mana lelaki jadi miskin tanggungjawab dan fakir komitmen..
bila lelaki yg tidak lulus ujian tanggungjawab dan komitmen, merekalah yg akhirnya masuk dalam jurusan pacaran..
cinta disempitkan dalam arti pacaran, terbatas pada rayuan palsu dan gandengan tangan.
padahal pendamping yg saleh tiada pernah didapatkan dari proses pacaran.
karena kesalehan dan kebatilan jelas bertentangan.
hak dan batil tidak akan pernah bertemu bagaikan fatamorgana yg janjikan kemuliaan semu.
bagaimana bisa lelaki yg sudah memahami pacaran itu perbuatan yg dilarang oleh Allah memaksa dengan berbagai alasan agar engkau berbagi dosa dengan dia melawan Allah, lalu yg seperti ini bisa jadi panduan setelah menikah ?
sebelum halal saja dia sudah berani katakan sayang kepadamu, jangan heran bila setelah dia menikah, dia berani katakan itu pada wanita-wanita yg lain, toh sama-sama bermaksiat pada Allah.
jika sebelum akad saja ia sudah berani melabuhkan tangannya pada tubuhmu, jangan heran bila setelah menikah ia mampu lakukan itu pada wanita-wanita yang lain, toh sama-sama dosa pada Allah
yang tiada takut dosa saat sebelum menikah, tentunya jangan harap ia takut dosa setelah menikah
~Ust.Felix Siauw

Lima Tips Berinteraksi "Aman" Selama Proses Ta'aruf Hingga Hari Pernikahan

Pernikahan yang berkah tidak hanya ditandai dengan keberkahan saat pelaksanaan hari pernikahan, tetapi juga dari awal proses yang dijalani hingga menuju pernikahan tersebut. Tentunya bukan diawali dengan proses ‘pacaran’ yang menyimpang dari syariat, namun diawali dengan ta’aruf (pranikah) yang diikhtiarkan untuk dijalani sesyar’i mungkin. Berikut ini saya sampaikan lima tips berinteraksi ‘aman’ selama proses ta’aruf hingga pernikahan.

1. Rahasiakan Proses
“Rahasiakan pinangan, umumkanlah pernikahan (HR. Ath Thabrani)
Pinangan/lamaran/khitbah dianjurkan untuk dirahasiakan, apalagi proses ta’aruf yang mendahului proses pinangan tersebut. Berlanjutnya proses ta’aruf bukan jaminan kelak berlanjut hingga pernikahan, sehingga untuk menjaga dari rasa malu dan jadi bahan pembicaraan seandainya kelak proses tidak berlanjut, maka rahasiakanlah proses ta’aruf yang dijalani.
Ada yang berpendapat seperti ini: “Bukannya sebaiknya khitbah dipublikasikan sehingga tidak ‘salah khitbah’, mengkhitbah wanita yang sedang dalam masa khitbah? Kan ada larangan untuk mengkhitbah seorang wanita yang sudah dikhitbah rekan yang lain?” Silakan cek tulisan saya sebelumnya ini: Tiga Tips Seputar Penolakan Ta’aruf. Ada tahap ‘observasi’ yang perlu dijalani sebelum memutuskan untuk mengajukan ta’aruf kepada seorang akhwat, tidak dengan tiba-tiba langsung mendatangi wali si akhwat untuk mengkhitbah. Dengan observasi ini status seseorang sudah dikhitbah atau belum bisa diketahui secara jelas tanpa ada keharusan untuk mempublikasikan status ‘mengkhitbah’ ataupun ‘terkhitbah’, sehingga tidak perlu sampai mendapat malu karena ditolak akhwat yang sedang dalam masa khitbah.
Ada juga kisah nyata seseorang yang proses ta’arufnya ‘bocor’ ke pihak yang tidak bertanggung jawab, dan pihak tak bertanggung jawab tersebut berusaha menyebarkan fitnah dan mempengaruhi kedua pihak yang berta’aruf agar proses ta’aruf tidak berlanjut. Kuat dugaan pihak tersebut adalah ‘barisan patah hati’ dari salah satu atau kedua pihak yang sedang berproses, yang tidak terima ‘incarannya’ berproses dengan yang lain. Karena itu, rahasiakanlah proses ta’aruf agar aman dari hal semacam ini.

2. Menjaga Hati
“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu, kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim)
Adanya kecenderungan hati dalam proses ta’aruf tak bisa dihindarkan, meskipun dirasakan dengan kadar yang berbeda-beda oleh setiap orang. Rasulullah pun menganjurkan salah seorang sahabatnya untuk melihat siapa yang akan dilamarnya, agar menemukan sisi-sisi manusiawi yang membuat hati cenderung kepadanya, sehingga semakin yakin dan semakin mantap untuk menikahinya. Meskipun demikian, sebelum akad nikah terucap pihak yang berta’aruf tetaplah dua insan lawan jenis yang terbatasi oleh syariat. Bahkan setelah khitbah hingga sepersekian detik menjelang akad nikah terucap, syariat tetaplah membatasi, baik itu dari pola interaksi, komunikasi, dan pengekspresian rasa yang ada di hati.
Perkuat doa dan perbanyaklah ibadah selama berjalannya proses sebagai energi yang membentengi hati. Jagalah apa yang dirasa di hati agar tidak sampai melalaikan cinta  tertinggi kepada-Nya, hingga jatuh ke perbuatan yang menjurus ke zina hati. Yang berhak mendapatkan seratus persen apa yang dirasa itu adalah pasangan yang kelak akan dihalalkan dalam akad nikah, bukan yang masih belum ada ikatan sah. Bersabarlah, hingga kelak akad nikah akan menghalalkan apa yang dirasa.

3. Berkomunikasi Seperlunya
“Witing tresno jalaran soko kulino.”
Pepatah Jawa yang kurang lebih artinya “cinta tumbuh karena terbiasa” ini cukup erat kaitannya antara tips ketiga ini dan tips kedua di atas. Beda rasanya apabila komunikasi dilakukan dengan rekan kerja atau rekan satu organisasi tanpa ada hubungan spesial, dibandingkan dengan komunikasi antara dua insan yang sedang berta’aruf sehingga memerlukan penyikapan khusus. Semakin sering berkomunikasi, maka akan semakin meningkat pula kadar kecenderungan hati yang dirasakan dari dua lawan jenis yang bertautan hati. Semakin besar kadar kecenderungan hati yang dirasa, maka akan semakin susah mengontrol hati tersebut. Pelibatan mediator sebagai perantara komunikasi bisa dipilih agar komunikasi bisa berjalan aman, sehingga ada pihak yang bisa mengingatkan sekaligus menyaring hal apa saja yang perlu dikomunikasikan dan tidak perlu dikomunikasikan selama proses ta’aruf.
Apabila proses ta’aruf berlanjut hingga khitbah dan memasuki persiapan pernikahan, komunikasi secara langsung bisa dimungkinkan untuk melancarkan persiapan, namun harus tetap berpegang pada rambu-rambu syariat yang ada. Media komunikasi lewat SMS bisa dijadikan prioritas utama, karena dengan dikenakannya tarif SMS tentunya akan menjadi ‘penghambat’ untuk sering berkomunikasi dibandingkan bila berkomunikasi lewat aplikasi BBM atau Whatsapp yang bisa dikatakan ‘gratisan’. Komunikasi lewat telepon sebisa mungkin dihindari, karena suara yang terdengar bisa saja membuat jantung berdegup lebih kencang.
Berkomunikasilah saat ada hal-hal yang penting untuk dipersiapkan, misalnya untuk persiapan administrasi di KUA, persiapan perlengkapan hari pernikahan, koordinasi dengan panti asuhan anak yatim yang akan disantuni di acara nikahan, dan hal penting lainnya. Gaya komunikasi pun perlu diperhatikan, gunakanlah gaya komunikasi yang sewajarnya dan tidak ‘memancing-mancing’ komunikasi lanjutan yang tidak perlu. Silakan bandingkan dua gaya komunikasi ini:
Gaya komunikasi pertama
  1. “Untuk kelengkapan administrasi di KUA mohon disiapkan KTP dan Kartu Keluarga akhi. Besok bisa akhi antar langsung ke kantor KUA.”
  2. “Undangan dari keluarga saya ada 300 orang. Mohon disiapkan sejumlah itu, insya Allah besok mbak saya akan mengambil undangannya ke rumah ukhti.”
  3. “Saya sudah silaturahim ke panti anak yatim siang ini, insya Allah ada sepuluh anak yatim yang akan hadir di acara santunan saat pernikahan nanti.”
Gaya komunikasi kedua
  1. “Akhi, besok datang pagi-pagi ke KUA bawa KTP dan Kartu Keluarga ya. Jangan kebanyakan begadang nonton Piala Dunia, nanti bangunnya kesiangan. ;)”
  2. “Ukhti, untuk keluarga saya perlu 300 undangan ya. Oiya, desain undangannya bagus sekali. Suka banget dengan desain buatan ukhti ini.:)”
  3. “Ukhti, waktu silaturahim di panti anak yatim tadi saya bertemu adik-adik yang lucu-lucu deh. Mereka mendoakan semoga pernikahan kita nanti SAMARA.:D”
Dua gaya komunikasi di atas terlihat cukup berbeda bukan? Gaya komunikasi pertama terkesan ‘datar’ tanpa ekspresi, sedangkan gaya komunikasi kedua terlihat ‘cair’, tampak cukup akrab. Apalagi ditambah ‘icon’ kedipan, senyum, dan tertawa yang bisa jadi berefek ke si pembaca, sampai membayangkan bahwa yang mengedipkan mata itu si pengirimnya. Hindarilah gaya komunikasi kedua ini. Bagi kaum akhwat yang konon hatinya cukup rapuh pada kata-kata manis, efeknya tentu akan lebih dahsyat lagi.
Yang tak kalah penting untuk diperhatikan dalam komunikasi ini adalah mengenai ‘jam malam’, semaksimal mungkin hindari komunikasi di malam hari. Konon, keheningan malam membuat organ tubuh manusia menjadi lebih sensitif dan mudah terangsang, sehingga setan lebih mudah mempengaruhi pikiran dan hati. Pikiran dan hati yang terpengaruhi menjadi rawan tergelincir ke kondisi ‘menikmati’ komunikasi malam hari, sehingga pikiran membayangkan yang tidak-tidak, selanjutnya hati berangan-angan, dan pada akhirnya bisa sampai tergelincir ke zina hati. Na’udzubillah min dzalik. Berhati-hatilah dalam berkomunikasi, jagalah kehormatan diri satu sama lain, jaga kesucian hatinya dengan tidak memberikan ungkapan ataupun perhatian yang saat ini belumlah halal diterimanya.

4. Interaksi di Media Sosial
Bagi ‘aktivis Facebook’, berbunganya rasa di hati saat ta’aruf dijalani dan pernikahan tinggal dalam hitungan hari kadang terbawa ke media sosial Facebook. Bawaannya mendadak jadi ‘romantis’, sering membuat status dan memasang gambar yang ‘menyerempet’ ke tema seputar cinta dan pernikahan. Status ‘engaged’ dengan seseorang pun langsung ditampilkan di Facebook setelah acara khitbah dilaksanakan, meskipun ada anjuran untuk menyembunyikan lamaran. Saling ‘nge-like’ status dan saling komentar di wall Facebook pun tak hanya sekali dua kali dilakukan. Tak jarang dari status dan gambar yang ‘menyerempet’ itu akhirnya jadi bahan pembicaraan bagi rekan lain.
Tulislah status yang sewajarnya meskipun hati sedang berbunga-bunga, biarlah apa yang dirasa cukup diri sendiri dan Allah yang tahu. Mengulangi pesan di tips ketiga, “jagalah kehormatan diri satu sama lain, jaga kesucian hatinya dengan tidak memberikan ungkapan ataupun perhatian yang saat ini belumlah halal diterimanya.”

5. Tidak Berduaan/Berkhalwat
“Janganlah salah seorang dari kalian berdua-duaan dengan wanita, karena setan akan menjadi ketiganya” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Apapun jenis aktivitasnya libatkanlah orang ketiga untuk mendampingi, jangan hanya berdua-duaan. Selain mengambil celah agar tidak ditempati setan, orang ketiga tersebut bermanfaat selayaknya menjadi ‘polisi’ yang bertugas mendampingi, mengawal, sekaligus ‘menyemprit’ apabila proses terlihat mulai berbelok. Orang ketiga tersebut kelak juga bisa menjadi ‘saksi’, bahwa proses ta’aruf hingga pernikahan telah diikhtiarkan untuk dijalani sesyar’i mungkin sekaligus mengklarifikasi prasangka yang mungkin ada selama proses dijalani.
Terkait aktivitas khalwat ini, ada pendapat yang mengatakan bahwa pembicaraan rahasia antara ikhwan dan akhwat meskipun dilakukan lewat media komunikasi jarak jauh seperti telepon, SMS, ataupun aplikasi seperti chat Facebook, Whatsapp, dan BBM bisa dikategorikan sebagai bentuk ‘khalwat online’ karena dikhawatirkan bisa terjerumus ke zina hati apabila tidak bisa dijaga dengan baik. Namun, ada juga pendapat bahwa berkomunikasi secara langsung lewat media tersebut diperbolehkan asalkan adab-adab komunikasi antar lawan jenis bisa dijaga dan aman dari fitnah dan zina hati. Hadits ini bisa jadi pegangan:
“Kebajikan adalah akhlak yang baik dan dosa adalah apa-apa yang meragukan jiwamu dan engkau tidak suka jika orang lain mengetahuinya” (HR. Muslim)
Kembali lagi ke contoh gaya komunikasi di tips ketiga, gaya komunikasi pertama saya yakin tidak akan ada rasa malu apabila orang lain mengetahuinya, namun tidak dengan gaya komunikasi kedua yang bisa membuat muka memerah apabila orang lain mengetahuinya. Rasa malu dan enggan apabila orang lain mengetahui jenis pembicaraan yang dilakukan, bisa jadi tanda bahwa pembicaraan tersebut bukanlah pembicaraan antar lawan jenis yang layak untuk dilakukan.
Bila hati terasa susah dijaga, akan lebih aman kalau ‘blocked contact’ di aplikasi tersebut bisa juga diaktifkan agar tidak ada peluang untuk berkomunikasi pribadi secara langsung. Insya Allah pendampingan semacam ini bisa menghindari terjadinya khalwat di dunia online seperti halnya pendampingan orang ketiga untuk menghindari khalwat di dunia nyata.
dalam komunikasi online pun juga melibatkan orang ketiga dan menghindari kontak pribadi secara langsung. Bisa dibuat group BBM atau Whatsapp yang terdiri dari minimal tiga orang, yaitu si ikhwan, si akhwat, dan orang ketiga. Orang ketiga ini bisa dipilih dari sahabat tepercaya, ataupun perwakilan dari pihak keluarga yang turut membantu dalam persiapan pernikahan. Bila ada fasilitas
Semoga tips-tips di atas bermanfaat dan memberikan pencerahan.
Wallahua’lam bishshawwab